Ayah sang panglima Abu Ubaidah, duduk di dalam tenda yang tambal sulam, tidak dijaga oleh iring-iringan pasukan khusus, tidak dinaungi oleh hak istimewa, tidak mengenal jalan menuju hotel nan nyaman maupun panggung popularitas.
Seorang pria yang melahirkan sosok yang menjadi simbol perlawanan di seluruh penjuru bumi. Sedangkan dirinya menjadi simbol dari kesunyian yang bersahaja. Berteman setia kelaparan dan kepenatan berat layaknya warga Gaza yang lain.
Tenda miliknya adalah bukti tegas bahwa jalan ini bukanlah perdagangan, bahwa darah yang tertumpah tidak ditukar dengan keuntungan, dan bahwa orang yang mendidik para pahlawan tidak mendidik anak-anaknya demi remahan duniawi.
Inilah ayah Abu Ubaidah, duduk di tempat yang sama dengan kaum yang terlupakan untuk membongkar kedok komplotan kaum munafiqin yang menjual akhirat mereka dengan dunia dan rela menjadi hamparan pijak tirani angkara.
(Semoga Allah mengumpulkan Abu Ubaidah dan seluruh syuhada di dalam syurgaNya)