Loading... | Live
Palestina Suriah Afghanistan
TERKINI
Update terkini kondisi kaum Muslimin di Palestina dan Gaza Perkembangan terbaru situasi Suriah pasca pembebasan Damaskus Berita perjuangan Muslimin di Afghanistan dan Asia Tengah Analisis mendalam geopolitik dunia Islam global Menyongsong Fajar yang Dijanjikan — Futuhat Media Update terkini kondisi kaum Muslimin di Palestina dan Gaza Perkembangan terbaru situasi Suriah pasca pembebasan Damaskus Berita perjuangan Muslimin di Afghanistan dan Asia Tengah Analisis mendalam geopolitik dunia Islam global Menyongsong Fajar yang Dijanjikan — Futuhat Media

An-Nushairiyah… Agama Setan!

April 17, 2026


Oleh: AsySyaikh Dr. Mahmud Al-Qa’ud hafizhahullah 


An-Nushairiyah — dan mereka menamai diri mereka hari ini “Alawiyin” — adalah sebuah sekte batiniyah gnostik yang muncul pada abad ketiga Hijriah di tangan Muhammad bin Nushair An-Numairi, yang mengklaim bahwa ia adalah “pintu” Imam Hasan Al-Askari, dan bahwa ia memiliki ajaran-ajaran rahasia yang bertentangan dengan Islam secara lahiriah dengan pertentangan yang mendasar.


An-Nushairiyah menyebar di pegunungan pesisir Suriah dan sebagian wilayah Turki dan Irak, dan jumlah mereka saat ini berkisar antara empat hingga lima juta jiwa, mayoritas mereka berada di Suriah, di mana mereka memegang kendali kekuasaan politik dan militer hingga kekalahan mereka pada 8 Desember 2024 M.


Dan pertanyaan yang diajukan oleh setiap peneliti yang adil: apakah mereka ini Muslim sebagaimana yang mereka klaim, ataukah mereka sesuatu yang lain yang memerangi Allah dan Rasul-Nya?


Pertama: Asal Akidah dan Sumbernya… Gnostisisme Yunani dengan Balutan Islam

Untuk memahami An-Nushairiyah, harus memahami sumber-sumber sejati mereka. Akidah mereka merupakan campuran dari:

•Gnostisisme Yunani dalam pembedaan antara dunia cahaya dan dunia kegelapan

•Neoplatonisme dalam teori emanasi dan akal universal

•Manikeisme Persia dalam dualisme antara kebaikan dan kejahatan

•Kekristenan batiniah dalam pendewaan individu tertentu

•Ismailiyah dalam pendewaan para imam


Kemudian seluruh campuran ini dilapisi dengan cat Islam berupa istilah-istilah Qur’ani dan nama-nama kenabian, agar tampak dari kejauhan sebagai sesuatu yang familiar… namun nama-nama tidak mengubah hakikat.


Kedua: Trinitas Suci An-Nushairiyah… Pendewaan Ali radhiyallahu ‘anhu

Di sinilah kita sampai pada inti akidah Nushairiyah dan yang paling berbahaya darinya… kaum Nushairiyah meyakini trinitas suci yang terdiri dari:


•Ali bin Abi Thalib adalah “makna” dan ia adalah tuhan yang menjelma

•Nabi Muhammad ﷺ adalah “nama” yaitu hijab yang menutupi Ali

•Salman Al-Farisi adalah “pintu” atau perantara


Dan trinitas ini diambil secara struktural dari trinitas Kristen (Bapa, Anak, dan Ruh Kudus) namun dengan tokoh yang berbeda.


Dalam kitab mereka “Kitab Al-Majmu’” yang dinisbatkan kepada Ibnu Nushair terdapat ungkapan-ungkapan yang jelas dalam mendewakan Ali, di antaranya:

«أشهد أن لا إله إلا علي بن أبي طالب، المعبود المسجود

“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Ali bin Abi Thalib, yang berhak disembah dan disujudi.”


Dan ini adalah kekufuran yang nyata menurut ijma’ umat, bahkan merupakan kekufuran terhadap Ali sendiri radhiyallahu ‘anhu yang memerangi kaum ekstremis dalam hidupnya dan membakar sebagian dari mereka yang mengklaim ketuhanannya dengan api… maka kaum Nushairiyah justru mendewakan seorang lelaki yang menghukum orang yang mendewakannya!


Ketiga: Kitab-Kitab Nushairiyah

Kitab “Alfazh wal-Azhillah”

Dan ia termasuk sumber paling awal Nushairiyah, dan memuat:

•Akidah reinkarnasi dan hulul secara terang

•Deskripsi cahaya-cahaya ilahi yang menjelma pada Ali

•Tafsir batin terhadap Al-Qur’an yang menghapus makna lahiriahnya


Risalah Ar-Rasyidiyyah:

Yaitu dokumen internal Nushairiyah yang menjelaskan hierarki keagamaan dan menetapkan bahwa orang awam tidak berhak mengetahui hakikat agama.


Fatwa Nushairiyah Sendiri untuk Shalahuddin!

Dan yang menggelikan adalah bahwa kaum Nushairiyah ketika ingin berintegrasi secara politik dalam negara Islam, mereka mengeluarkan fatwa dari ulama mereka pada tahun 1936 M yang menegaskan “keislaman” mereka — dan dokumen ini masih digunakan secara politik hingga hari ini, sementara akidah mereka yang sebenarnya mengatakan hal yang sepenuhnya bertentangan.


Keempat: Rukun Islam Lima dalam Akidah Nushairiyah

•Dua kalimat syahadat: لا إله إلا الله محمد رسول الله

Syahadat Nushairiyah: Ali adalah makna, Muhammad adalah nama

•Shalat: lima kali sehari dengan rukun yang diketahui

Dalam Nushairiyah dihapus; shalat mereka adalah menyebut nama Ali!

•Puasa: Ramadan adalah kewajiban Qur’ani yang pasti

Kaum Nushairiyah tidak berpuasa Ramadan

•Zakat: kewajiban harta dengan nisab tertentu

Dalam Nushairiyah tidak ada dalam sistem agama mereka

•Haji: ke Makkah Al-Mukarramah

Kaum Nushairiyah tidak berhaji; sebagian mereka menafsirkannya dengan mengunjungi kubur Ali!


Kelima: Akidah-Akidah Besar Nushairiyah yang Keluar dari Islam

1- Reinkarnasi ruh

Kaum Nushairiyah meyakini bahwa ruh orang-orang beriman dari kalangan mereka berpindah setelah kematian ke jasad yang lebih suci, hingga mencapai bintang-bintang, dan mereka kadang menyebut diri mereka “ahl an-nujum”… adapun ruh orang kafir menurut mereka berpindah ke jasad hewan.


Dan ini bertentangan secara jelas dengan Al-Qur’an:

«وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ»

“Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (Al-Mu’minun: 100)


2- Hulul dan Ittihad

Kaum Nushairiyah meyakini bahwa tuhan menjelma dalam tubuh manusia, dan bahwa Ali adalah tingkat tertinggi dari penjelmaan ini… dan hulul adalah akidah filosofis pagan yang telah dibantah oleh seluruh ulama Islam, dan ia adalah apa yang disebut oleh ahli kalam sebagai “ittihadiyyah” yang semua ulama mengkafirkan penganutnya.


3- Penghapusan surga dan neraka hakiki

Surga menurut Nushairiyah adalah kembalinya ruh ke alam cahaya. Neraka adalah penjelmaan dalam hewan. Dan tidak ada menurut mereka hari akhir dalam makna Qur’ani berupa kebangkitan, hisab, mizan, dan shirath.


4- Meminum khamr dalam ritual agama

Dan termasuk yang paling aneh dalam agama Nushairiyah adalah bahwa khamr masuk dalam sebagian ritual keagamaan batin mereka, dan hal ini telah didokumentasikan oleh orientalis René Dussaud dalam bukunya “Sejarah Nushairiyah dan Agama Mereka”, di mana ia menyebutkan bahwa khamr mewakili simbol cahaya ilahi yang menjelma.


Dan ini menjelaskan fenomena bahwa wilayah Nushairiyah di Suriah secara historis merupakan yang paling banyak memproduksi khamr dan sampanye di negeri-negeri Islam.


5- Hari raya keagamaan campuran

•Kaum Nushairiyah merayakan:

•Natal (25 Desember)

•Epifani (hari raya Kristen)

•Nowruz (hari raya Persia)

•Ghadir dengan bentuk ekstrem


Namun mereka tidak merayakan dua hari raya Islam (Idul Fitri dan Idul Adha) dalam bentuk Islam yang dikenal.


Dan Ibnu Battutah mencatat dalam perjalanannya ketika melewati wilayah mereka, keheranannya terhadap campuran ini, dan menyebut bahwa mereka tidak menyerupai kaum Muslimin dalam ibadah mereka.


Keenam: Sikap Ulama Islam Besar


Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam “Majmu’ Al-Fatawa”:

“Kaum ini yang disebut Nushairiyah dan seluruh jenis Qaramithah batiniyah lebih kafir daripada Yahudi dan Nasrani, bahkan lebih kafir daripada banyak kaum musyrikin, dan bahaya mereka terhadap umat Muhammad ﷺ lebih besar daripada bahaya orang-orang kafir yang memerangi.”


Dan hukum ini dari Ibnu Taimiyah tidak keluar begitu saja, tetapi setelah kajian mendalam terhadap akidah mereka dan perbandingannya dengan Islam.


Imam Al-Mazari rahimahullah, imam Malikiyah pada zamannya, menggambarkan sekte batiniyah secara umum sebagai “zindiq yang bersembunyi di balik Islam.”


Imam Al-Ghazali rahimahullah kitabnya “Fadha’ih Al-Batiniyyah” — yang merupakan kitab pertama yang membongkar secara metodologis akidah batiniyah — menetapkan bahwa tujuan akhir gerakan batiniyah adalah membatalkan syariat Islam melalui takwil yang menyimpang.


Ketujuh: Nushairiyah dan Politik… Pemanfaatan Agama untuk Kekuasaan

Tidak mungkin memahami Nushairiyah modern tanpa dimensi politiknya. Sekte ini menggunakan identitas akidah sebagai alat kohesi dan perlindungan kekuasaan, yang menjelaskan beberapa fenomena:

•Fatwa Musa Ash-Shadr tahun 1974 yang mengakui mereka sebagai Muslim Syiah

•Penggunaan nama “Alawiyin” sebagai pengganti “Nushairiyah”

•Pemanfaatan narasi “minoritas tertindas”


Kedelapan: Pertanyaan untuk Nushairiyah

1- Jika Ali adalah tuhan, mengapa ia wafat?

Tuhan sejati tidak mati dan tidak dikalahkan…

2- Jika hulul itu benar, mengapa terjadi banyak penjelmaan yang saling bertentangan?

3- Jika shalat lahiriah batal, mengapa kalian menampakkan Islam di hadapan umum?

4- Jika surga dan neraka hanyalah simbol, apa makna tanggung jawab?


Kesembilan: Apa yang Dilakukan Nushairiyah terhadap Islam

•Bekerja sama dengan tentara salib dalam beberapa fase

•Memberi informasi kepada musuh dalam sebagian riwayat

•Menolak jihad dengan alasan batiniah


Dalam era modern: rezim Suriah di bawah Hafez dan Bashar Al-Assad melakukan pembantaian terhadap kaum Muslimin.


Penutup

Sesungguhnya Nushairiyah adalah agama setan tanpa keraguan… berdiri di atas penyembahan manusia, penghapusan rukun Islam, penggantian hari kiamat dengan reinkarnasi, dan pencampuran filsafat pagan dengan gnostisisme Persia di bawah topeng Islam… oleh karena itu tidak ada ulama Muslim yang dapat menyebutnya sebagai Islam.


Dan kaidah emas dalam hal ini adalah firman Allah Ta’ala:


«قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ»

“Katakanlah: Tunjukkanlah bukti kalian jika kalian orang-orang yang benar.” 

(Al-Baqarah: 111)

Ayah Sang Panglima di Tenda Tambal Sulam: Sebuah Tamparan bagi Para Pemfitnah

Januari 07, 2026



Ayah sang panglima Abu Ubaidah, duduk di dalam tenda yang tambal sulam, tidak dijaga oleh iring-iringan pasukan khusus, tidak dinaungi oleh hak istimewa, tidak mengenal jalan menuju hotel nan nyaman maupun panggung popularitas.


Seorang pria yang melahirkan sosok yang  menjadi simbol perlawanan di seluruh penjuru bumi. Sedangkan dirinya menjadi simbol dari kesunyian yang bersahaja. Berteman setia kelaparan dan kepenatan berat layaknya warga Gaza yang lain.


Tenda miliknya adalah bukti tegas bahwa jalan ini bukanlah perdagangan, bahwa darah yang tertumpah tidak ditukar dengan keuntungan, dan bahwa orang yang mendidik para pahlawan tidak mendidik anak-anaknya demi remahan duniawi. 


Inilah ayah Abu Ubaidah, duduk di tempat yang sama dengan kaum yang terlupakan  untuk membongkar kedok komplotan kaum munafiqin yang  menjual akhirat mereka dengan dunia dan rela menjadi hamparan pijak tirani angkara. 


(Semoga Allah mengumpulkan Abu Ubaidah dan seluruh syuhada di dalam syurgaNya)

Ketika Dunia Menutup Pintu: Jalan Terakhir Sang Pemilik Tongkat

Januari 07, 2026


Kelompok perlawanan tidak pernah bersifat nihilistik (asal tabrak) dan tidak pernah condong ke pertempuran kecuali setelah dunia menutup semua pintunya terhadap rakyat kami.

Pemilik tongkat (Yahya Sinwar) itu sendiri tidak meninggalkan negara, pihak, atau mediator mana pun kecuali ia telah mengetuk pintunya, dan memberikan konsesi-konsesi yang menyakitkan demi mendapatkan sedikit saja dari hak-hak rakyat kami.

Ia merajut benang-benang hubungan dengan Mesir, dengan Fatah dalam segala coraknya, dengan Uni Emirat Arab; semua marah atas tindakannya, dan ia menanggung rasa sakit yang besar demi meringankan beban rakyatnya.

Saya tidak akan melupakan kalimat yang selalu ia ulang: "Kami duduk bersama kaum terhormat dan yang tidak terhormat, demi rakyat kami dan sepotong roti mereka; kami duduk dalam pertemuan-pertemuan yang, demi Allah, kami tidak menyukainya dan merasa jiwa kami dicabut dari kami, kami lakukan itu demi rakyat kami."

Dua tahun sebelum pertempuran, ia mengancam dengan jelas:
"Kami akan membakar yang hijau dan yang kering di akhir tahun..."

Tahun itu berlalu, kemudian tahun lain, dan berbulan-bulan panjang dari tahun ketiga, sebelum ia memulai pertempurannya demi rakyatnya; setelah semua pintu ditutup, semua telinga tuli, dan pandangan dunia buta terhadap pelanggaran kehormatan rakyat kami di Tepi Barat dan AlQuds.

Jadwal pertempuran telah ditentukan sebelum Oktober, dan ia telah menetapkan waktu tertentu untuknya sebelumnya; namun ia menundanya dalam upaya mencapai solusi politik alih-alih pertempuran, dan itu gagal.

Sejak dimulainya pertempuran hingga hari ini, tidak ada tawaran yang diajukan kepada "si hijau (HAMAS)" yang mengakhiri pembantaian dan ditolak oleh gerakan; semua yang ditawarkan kepadanya selalu bersyarat dengan kelanjutan pembantaian rakyat kami.

Pertempuran yang berdarah-darah, di mana gerakan HAMAS kehilangan 80% dari kepemimpinan politiknya di Gaza, dan hampir persentase yang sama dari kepemimpinan militernya.

Pertempuran berdarah-darah yang salah satu tujuan utamanya: menghapus keluarga-keluarga pejuangnya dari catatan sipil.

Pertempuran berdarah-darah, di mana ia mempersembahkan generasi-generasi berturut-turut dari kepemimpinan badan dan departemen; Allah menjadi saksi, dan kami pun menjadi saksi, bahwa ia telah mempersembahkan yang paling berharga dan termahal selama itu.

Sejarah Palestina kontemporer tidak mencatat gerakan Arab atau Palestina mana pun yang mengorbankan semua yang dimilikinya dari aset, kepemimpinan, dan kader dalam pertempuran penentu seperti yang dilakukan oleh "si hijau/HAMAS".

Akhirnya, saya mengungkapkan ini karena suara para penjahat semakin keras di negeri ini, dan sebagian dari mereka mengira sejenak bahwa suara kebenaran telah melemah, dan bahwa para pejuang adalah bagian dari masa lalu.

(Muhammad Haniya)